Manajemen ASIP

Waktu 3 bulan itu cepet banget, buat ibu bekerja seperti saya yang dapet jatah cuti melahirkan apalagi, kayanya waktu itu terbang gitu aja, terbangnya pake pesawat jet jadi cepeeettt banget.

Pertama-tama ngurus anak waktu kerasanya lama banget, pengen cepet-cepet anak umur 40 hari atau selapan biar aman dibawa kemana-mana, terus pengen cepet-cepet anak umur 3 bulan biar semakin enak jadwal bobonya.. Tapi begitu mendekati waktu cuti yang hampir habis, waktunya serasa cepet banget. *ibu2labil* hahaha..

Buat ibu seperti saya yang terpaksa masih harus bekerja karena tuntutan hidup *ceile* perlu persiapan esktra daripada ibu-ibu yang full time di rumah. Persiapannya pertama adalah mencari asisten rumah tangga yang mau dititipin momong selama saya bekerja, kedua adalah menyiapkan stok ASI karena saya memberikan ASI ekslusif. Mungkin hanya dua inti itu aja persiapannya, keliatannya simple tapi bikin galau juga loh. Buat ibu-ibu bekerja di luar sana pasti merasakan hal yang sama dengan saya.

Susahnya mencari asisten karena mengurus bayi itu lebih ribet dan capek daripada mengurus rumah tangga, jadi banyak yang nolak. Untungnya waktu saya sudah harus masuk kerja, si mbak yang memang sudah ikut lama di rumah ngga keberatan saya titipin Vanya, kebetulan di rumah ada 2 mbak jadi bisa bagi tugas. Tapi cerita tentang si mbak yang harus momong Vanya ngga berhenti di situ, karena si mbak harus pulang dan ngga balik lagi karena mau nikah, jadilah saya harus cari mbak lagi. Sempet dapat dari yayasan karena kepepet dengan gaji yang tinggi *fiuh* tapi ngga lama juga karena akhirnya pulang kampung urus suami. Akhirnya dapet 2 mbak asisten yang mau ikut sampai sekarang, cuma karena si mbak satunya bawa anak sama aja ngga bisa momong Vanya pada akhirnya *fiuh*. Beruntung saya punya tetangga sebelah rumah yang menawarkan diri momong Vanya selama saya bekerja, orangnya telaten dan Vanya sendiri juga anteng – anteng aja walopun harus dibawa ke rumah sebelah, saya pun lega. Puji Tuhan berlanjut sampe sekarang, sehingga saya ga perlu pusing-pusing cari babysitter lagi.

Yang kedua adalah tentu saja hal per-ASI-an, perlu belajar teorinya yang judulnya mirip dengan nama mata kuliah. Manajemen ASIP (Air Susu Ibu Perah). Sejak saya masih cuti dan di rumah saya udah siap – siap stok ASI untuk persediaan ketika saya mulai bekerja lagi. Yang dianjurkan adalah memerah setiap 2 jam sekali bergantian, ketika bayi menyusu payudara kanan maka setelah itu payudara kiri di perah, lalu ketika jadwal minum lagi berikan payudara kiri dan selanjutnya payudara kanan diperah, begitu seterusnya. Saya sendiri pada kenyataannya dulu agak kesusahan menemukan waktu memerah, tidak seperti yang dianjurkan 2 jam sekali karena pola tidur siang Vanya yang cenderung sebentar-sebentar, biasanya di sela-sela tidur siangnya saya hanya sempat makan, mandi dan istirahat sebentar. Saya baru bisa memerah ketika Vanya sudah tidur malam, dan pada saat dini hari itu pun jika saya tidak terlalu lelah untuk bangun. Akhirnya saya mendapat sekitar 40an botol di dalam freezer sampai pada akhirnya saya harus masuk kerja. Setiap hari saya membawa peralatan perang yang isinya breastpump, 2 botol susu, cool box beserta ice gel. Di sela waktu bekerja saya cuma punya kesempatan untuk memompa 2 kali, puji Tuhan hasil perah saya sekali pompa 2 payudara bisa mencapai 100-150 ml. Setiap hari saya bisa mendapat 3-4 botol simpan ASIP untuk persediaan esok hari.

Saya mulai diburu kejar tayang ketika vanya umur 5 bulan. Ketika itu karena krisis ART sehingga beberapa hari Vanya harus saya titipkan ke eyang ti nya (mertua). Waktu itu mau ga mau harus bolak balik antar pagi ke rumah mertua dan jemput sorenya. Karena itu juga ASIP yang diperlukan bertambah, bisa sampai 5-6 botol ASIP per hari. Sampai pada akhirnya persediaan ASIP saya di freezer habis dan mengandalkan hasil perah tiap harinya. Hal ini pun masih saya alami sampai sekarang. Saya sempat khawatir kalo ASI saya ga cukup, tapi saya tetep ga patah semangat dan tetep positif thinking, puji Tuhan sampe sekarang hasil perahan tiap hari tetep cukup. Yang lebih melegakan lagi karena ketika Vanya usia 6 bulan sudah boleh MPASI, sehingga dia ga cuma tergantung ASI saja.

Kurang lebih begitu lah suka duka saya dalam hal per-ASI-an hehe. Up and down, bikin galau juga iya. Buat mommy yang mungkin seperti saya, tetap semangat yah! Dan buat mommy yang stok ASIP nya semakin menipis, jangan patah semangat karena ASI yang keluar menyesuaikan kebutuhan bayi itu bener adanya. Keep positive thinking, pinter – pinter memanage mood dan bersenang-senang dalam artian melakukan hal yang disenangi supaya happy.

Bagi yang mau belajar tentang manajemen ASIP bisa baca-baca dari link di bawah ini, saya pun juga belajarnya dari sini.

https://www.facebook.com/notes/asosiasi-ibu-menyusui-indonesia/manajemen-asip-air-susu-ibu-perahan/10151691450399778

http://www.ayahasi.org/2012/02/manajemen-asip-air-susu-ibu-perahan.html

http://aimi-asi.org/2011/09/ulasan-polling-agustus-2011-mencairkan-asip/

http://semarang.aimi-asi.org/2010/11/manajemen-laktasi-untuk-ibu-bekerja/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s