Review Film : Keluarga Cemara

Sekali – kali review film yuk, jangan drakor mulu yan direview hehehe.. Perdana dan yang direview adalah film Indonesia, wuss keren ngga sih aku tuh (muji diri sendiri) jarang – jarang lho aku tuh nonton film Indonesia. Tahun 2018 jumlah film Indo yang aku tonton adalah …… SATU yaitu DILAN hahahaha..

Berhubung sudah punya anak jadi yang ditonton tentunya film yang cocok buat anak-anak dong ya, dan ini film trailernya udah wara wiri di Youtube sudah pasti nak wedok notice apalagi sountracknya, sudah tentu request mo nonton Keluarga Cemara. Nontonnya sih udah Sabtu minggu lalu.

Reviewnya berdasarkan penilaian emak – emak mudah beranak satu ya, ngga bisa yang teknis – teknis gitu.

Untuk anak seusia nak wedok 5 th nan mungkin akan belum terlalu paham jalan ceritanya dan akan banyak nanya, kenapa ini kenapa itu.. tapi buat aku yang penting momen nonton film di bioskop yang bikin nak wedok senang. Dan yang jelas ditunggu – tunggu sepanjang film adalah sountracknya hahaha…

Satu komentar untuk film ini, daleeeeeemmmm banget… bagus deh. Nilai – nilai yang mau disampaikan di film ini dapet banget. Bahwa kebahagiaan ga melulu tentang bersenang – senang atau serba ada, kebahagiaan bisa dirasakan dengan kesederhanaan bahkan di saat – saat yang berat, dalam film ini disampaikan lewat kebersamaan keluarga. Konfliknya lebih cenderung antara Abah (bapak) dan Euis (anak pertama) yang sudah abege.

Aku rekomen deh ini film untuk weekend gateway bareng keluarga, mudah – mudahan masih tayang ya di bioskop. Siap – siapin tissue deh moms, karena aku pun banyak meweknya sepanjang film kwkwkw sensitif aku tuh anaknya.. 😛

Plus, satu lagi sountracknya ini nih yang lagi – lagi dinyanyiin mba BCL, daleeemmm banget..

Advertisements

My goals in 2019

Mungkin udah terlambat ya nulis resolusi tahun baru 2019.. tapi ngga apa – apa lah ya.. memang niat diri sendiri aja buat nulis apa aja mimpi yang pengen dikejar, target yang harus dicapai sama rencana mau ngapain aja sih tahun ini. Karena semua ini untuk siapa lagi kalo bukan untuk diri sendiri juga. Jujur sebelum-sebelumnya tidak menjadikan menulis resolusi tahunan sebagai suatu kewajiban atau kebiasaan, tapi tahun ini aku mau coba. Dan sengaja ditulis di sini dalam artian supaya bisa keliatan atau bisa kebaca lagi suatu saat sehingga jadi reminder, makna lebih dalemnya adalah mengetahui bahwa mimpi kamu ada, that they are exist..

Sedikit throwback ke tahun 2018, bisa dibilang it was not the easy one. Bisa aku bilang adalah tahun tentang sadar diri, memperbaiki kesalahan dan pembelajaran, in every aspect. Tahun dimana aku sadar untuk mencoba melakukan banyak hal yang benar, dengan harapan segala kecemasan, kekhawatiran dan ketidak tenangan bisa berkurang satu demi satu. Yang lebih religiusnya, aku lebih pasrah menempatkan hidupku ke Tuhan, ndherek kersaning ing Gusti, even though it is hard and though.

Maka dari itu aku pun membuka tahun ini dimana aku masih berproses dengan banyak mimpi dan harap.

  • Melakukan banyak hal untuk diri sendiri

Emang ngga spesifik karena kepengen banyak melakukan hal sama diri sendiri dan tentunya untuk diri sendiri. Pokoknya yang ada embel-embel “self” di dalamnya, apa pun itu : self love, self conscius, self discovery and so on. Intinya lebih pengen mengenal diri sendiri, mendengarkan diri sendiri, apa sih sebenarnya maunya atau apa sih yang dibutuhin dan menerima apa adanya. Tujuannya apa? Konon katanya bisa bikin lebih bahagia dan lebih bersyukur. Apakah ini terlalu muluk – muluk? Well, whatever.. I just want to call this as my self journey.

  • Financial free

Wuih, yang ini juga ngga kalah muluk kan hehehe.. mengingatkan sementara ini masih jadi stay at home mom. Tapi jujur dari dulu emang kepengen punya usaha sendiri, dan berniat tahun ini untuk memulainya, apa pun itu. Untuk menjadi finansial free tentunya sangat ngga gampang, dan aku sadar bahwa harus berproses untuk ke sana. Menjadi unemployed juga ngajarin banyak hal kurasa, selain belajar masak itu sudah pasti hehehe, tapi aku sadar bahwa ketika kita ingin melakukan sesuatu seperti kepengen punya bisnis, kita harus punya NIAT yang super duper besar dan KONSISTENSI. Karena semua kita yang menentukan, kita yang punya niat, kita sendiri yang harus jalanin dan kita sendiri nantinya yang akan menikmati hasilnya. So, aku sungguh SALUT kepada para entrepeneur yang sudah sukses yang pastinya sudah ngelakuin dua hal tadi. Selain itu, tahun ini berusaha untuk credit card free alias ngelunasin cicilan kartu kredit, lebih tertib masalah ngeluarin uang supaya bisa menabung.

  • Healthy life

No healthy life on 2018 hahahaha.. karena bulan Januari tahun lalu badan udah ambruk dan harus operasi usus buntu. Dicurigai karena badan yang kelelahan yang menumpuk, pola makan ngga teratur dan ngga sempat olah badan. Tapi memasuki akhir tahun, malah justru berasa berat badan meningkat sepertinya (ini sih belom nimbang ya). Olah raga kayanya bisa diitung pake jari deh, cuma sempet nyobain Freeletics tapi masih harus ngumpulin niat buat nyoba lagi. So, tahun ini kepengen pelan-pelan doing simple workout at home aja, yang penting badan gerak, ada kalori yang dibakar dan lama-lama ngebentuk badan, eciyeeee…

  • Beberes rumah

Nah yang ini pe-er besar deh, karena kondisi rumah sudah terlalu sumpek, berantakan dan akhirnya jadi kotor. Sudah terlalu banyak barang yang ada di rumah, justru nambah tapi barang yang keluar cuma secuil. Khususnya perintilan kecil-kecil contohnya mainannya anak-anak yang banyak di sana sini tapi ngga ter-organized. Harus pelan-pelan ini mah, karena ngurangin atau ngebuang barang-barang kita tuh susah, biasanya karena ngga rela karena nilai kenangan atau history nya. Tapi yang penting harus dicicil, mulai satu-satu dari kamar ke ruangan lain, dll. Kemungkinan akan dipilah-pilah, barang mana yang akan diloak atau barang yang masih bisa disumbangin atau dilungsur ke yang lain. Wish me luck yaa hahaha…

  • Be more happy

Lastly yang paling penting, BAHAGIA. Mencoba bikin seneng diri sendiri dari mensyukuri hal-hal yang kecil aja. Dengan harapan jika kita bahagia, akan tambah sayang sama diri sendiri, terus sayang ke orang lain dan bikin orang lain bahagia juga. Because happiness is contageus.

Tantrum Season Kedua ?

Jadi sebenernya masih bertanya – tanya, apakah beneran ada tantrum season kedua ? Yang mana anak mengulang kembali kebiasan nangis kejer, susah berhenti akibat merengek minta sesuatu tetapi tidak dibolehkan ortunya.

Well, it happened to nak wedok.

Setelah vakum dari dunia perkantoran, saya punya jabatan baru dong, jadi seorang “macan ternak” alias mama cantik anter jemput anak. 😛 Dan bisa dikatakan hampir sebagian besar waktu saya habiskan di rumah, misal ada keperluan keluar rumah pun paling juga ngga lama.

Nah, ketika acara jemput sekolah itu terkadang nak wedok minta jajan, ya kadang minta makan ini, minta beli es krim, minta minuman milktea atau hanya sekedar beli susu di minimarket. Ada ajaaaaa… Berhubung ngga mau ngebiasain anak untuk dikit – dikit jajan, ngga semua permintaannya saya iya-in. Di situ lah seringnya dia mulai nangis – nangis berkepanjangan. Memang sih nak wedok punya riwayat kalo nangis itu lama berhentinya, hedeeehhh.. cuma setelah saya perhatiin kok semakin sering, persis ketika dia berumur 2 – 3 thn pertama kalinya dia masa – masa tantrum.

Entahlah……. *menerawangjauh*

Yang pernah ngalamin anaknya tantrum pasti paham banget kan ya rasanya, harus luar biasa siapin sabar yang banyak plus nahan marah, apalagi ketika situasinya kita sendiri. Saya sendiri pernah kelepasan “meledak” ketika ngadepin nak wedok tantrum, di tempat umum tapi dia nangis ngga berhenti – henti hanya karena alasan simple doang. Meledaknya itu sudah pasti marah sambil membentak. Sedih banget ngga siihhh… cuma ya no mother’s perfect and she’s just a kid 😦

Tapi bagaimana pun urusan parenting kuncinya ada di ortunya, mau anak tantrum juga cara ngadepinnya ada di ortunya. Bagaimana cara ngadepinnya, kita sebagai ortu yang harus berusaha nambahin stok sabar atau mau ngadepin dengan cara yang sama – sama keras sekeras tangisan si anak. Saya juga sering mensugesti diri sendiri, sudah pernah ngalamin masa – masa ini dan bisa berlalu, pastinya sekarang pun pasti akan berlalu juga.

Hanya kadang saya wondering, apa sih penyebabnya nak wedok kok bisa seperti itu lagi. Ngga pasti sih, hanya menebak – nebak dan bertanya sendiri apakah penyebabnya karena ini itu. Apakah nak wedok lagi pengen dimanja, atau kalo orang Jawa bilang “aleman” karena selalu ada mamanya ? Atau kah dia cari perhatian mamanya, sempat terpikir ini karena mungkin saya nya yang terlalu sibuk di rumah, ya masak, beres – beres, dll. Mungkiiiiiiinnnnn…

Apapun itu, saya bersyukur pernah baca postingan di Instagram, kebetulan follow @rainbowcastleid. Duh, kadang postingan mereka itu ngena banget deh di saya, paasss banget… Waktu itu yang saya baca judulnya “Yang Jauh Lebih Penting dari Semua Teknik Disiplin”, intinya apapun ilmu parenting yang kamu anut, atau apapun jurusan teknik disiplin, teknik biar anak nurut atau teknik ngadepin anak tantrum, yang paling penting adalah CONNECTION. Jadi yang paling penting adalah ikatan kita dengan anak, bagaimana membangun connecting dulu dengan mereka. Di situ dicontohkan untuk lebih memilih mendengar cerita – cerita imajinasi mereka daripada mengecek social media kita. Kena banget kaaannn kwkwkwkw…

So, dari situ mulai pelan – pelan memberi waktu tersendiri buat nak wedok, yang hanya sekedar nungguin dia mainan sepeda di luar rumah, nemenin dia mewarnai maupun tulis – tulis. Kemajuannya cukup signifikan ternyata, tantrum dia jauh berkurang kalopun nangis bisa cepet berhentinya.

Still long way to go nak, peer belajar buat mama ternyata masih banyak…

 

Drakor : Setelah Secretary Kim, lalu….

Kemarin baru aja nonton tamat drakor What’s Wrong with Secretary Kim, hehehe terlambat banget ya nontonnya, harap maklum karena keterbatasan waktu mamak yang ngaku sok sibuk ini dan berkurangnya ilmu “ngalong” seiring dengan bertambahnya tingkat kedewasaan ( baca : tua ).

Lumayan bagus sih, yang paling bikin saya suka adalah drakor ini berhasil bikin saya ngekek-ngekek sendiri pas nonton, ngga tau sih ya buat yang lain apakah memang ada adegan-adegan yang silly atau karena tingkat jokes saya yg receh karena kurang hiburan hahaha…

Terus-terus, di sini si mbak Park Min Young juga cantiknya kebangetan bikin ngirik. Kalo untuk aktornya Park Seo Joon ganteng sih, cuma bukan my type gitu.. tapi kalo senyum lumayan manis juga kok. Plus, yang ngga ketinggalan ada adegan kissing yang oke plus bed scene hahaha harus ya diomongin ( ya iya laahhh.. ) so untuk chemistry keduanya boleh juga. Kalo dari segi cerita drakor ini ringan banget..

Tapi, tapi aku tetep rindu nemu drakor kaya DOTS, ini belum ada yang ngalahin dari segala macam aspek, ya cerita ya chemistry lawan maennya, dll. So, sekarang saya bingung pemirsa mau nonton drakor apalagi setelah Secretary Kim ini, karena saya cenderung ngga nonton semua drakor dan tetep ngandalin insting ( ceile.. ) kalo liat cuplikannya.

Maka dari itu, wahai para master drakor… Ada saran judul yang bagus yang bisa bikin mamak ini baper ???

 

Good bye, comfort zone…

14 September 2016.

Sejak tanggal itulah tulisan ini terlupakan dan tertinggal di draft post, hampir 2 tahun berlalu tanpa pernah tau kapan tulisan ini akan di-posting, dan saya pun sudah lupa waktu itu hendak menulis apa kwkwkw..

Lalu kenapa tidak membuat judul baru, dalam rangka merayakan kembalinya saya hadir di blog ini, malah justru mencomot satu judul lama di rak draft antara tulisan-tulisan yang tidak terselesaikan?

Tanya kenapa ? Tak tahu, jawabku. Hanya saja judul ini masih terasa korelasinya dengan cerita hidup saya *eciiiyeeee*

Kembali ke 22 bulan lalu, sepertinya saya sedikit ingat kenapa saya membuat judul “Good bye, comfort zone”. Saat itu saya diberi tantangan baru dalam pekerjaan, suatu posisi dimana saya diharuskan menempa diri saya lebih, di bidang yang sama sekali baru. Saya orang yang suka tantangan, sangat suka belajar hal-hal yang baru, karena saya sebenarnya adalah orang yang diam-diam suka kepo.

Lalu, bisakah saya melewati tantangan itu? Long story short, I failed.

Well, ada beberapa faktor kenapa saya gagal atau merasa gagal, entah itu fakfor dari diri saya sendiri maupun faktor dari luar yang ingin saya gagal, tidak perlu diceritakan di sini panjang lebar lah yaa, biarlah saya dan orang-orang terdekat saya yang paham.

Tapi, apakah kata gagal itu ada? Orang bilang gagal adalah keberhasilan yang tertunda. Jadi saya pun melihatnya dari sisi yang lain pula, tidak ada kata gagal, yang ada saya pernah belajar dan berusaha. At least I can say, I tried.

Another “Good bye, comfort zone” nya lagi, saya memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan yang sudah saya jalani kurang lebih selama 10 tahun lamanya.

Alasannya?

Yang pertama karena banyak faktor itu tadi yang tidak saya ceritakan, yang mana membuat saya berpikir, sudah cukup. Mau dikatakan saya cepat menyerah ? Yah, itu bisa jadi penilaian orang dan saya sih monggo – monggo saja. Buat saya, saya memiliki alasan tersendiri.

Alasan yang kedua, lagi – lagi saya tertantang dan penasaran kerja di tempat lain, yang mana mengikuti prosesnya dari awal, masukin lamaran kerja dan CV, dipanggil interview, dll. Yaa, jadi selama hampir 10 tahun itu bisa dikatakan bekerja di perusahaan keluarga, jadi dulu mana pentinglah sebuah Curiculum Vitae ataupun interview karena masuk tinggal masuk aja. Tambah aneh ya, kenapa saya malah justru pergi hehehe…

Kemudian saya pun diterima di tempat lain, masih sama – sama di bidang hospitality tetapi dunia yang baru juga buat saya. Banyak hal yang saya dapat dan saya pelajari di situ, belajar tentang profesionalitas dan suatu manajemen yang baik. Tetapi tetap saja yang namanya perusahaan pasti ada sesuatu kekurangan, salah satunya adalah overtime yang gila – gilaan, yang mana menjadi pertimbangan besar untuk saya tetap stay di situ. That’s because I’m already a mother. Kalo lagi mikir – mikir, misal saya masih single pasti ngga akan masalah yaa.. Lha ini nak wedok yang protes kalo mamanya pulang malem terus hehehe..

Jadilah saya hanya bertahan 6 bulan di situ 😀

Really really good bye sama kenyamanan deh karena totally high risk.

So, here I am now. In totally insecure part of my life.

By this time, I am trying to figure out what I really want, what I want to be, what passion is mine, what I really need, and so on.

Mungkin bisa dibilang telat, fase untuk mencari tau hal – hal di atas. Well, ya ngga apa – apa. Fase setiap orang kan berbeda – beda. I’m dealing with it.

Kalo dari dulu saya menjalani posisi sebagai working mom, saat ini saya sedang menikmati peran gimana rasanya jadi full time mom.

Doakan yah, semoga saya secepatnya dapet ilham dan hidayah. 🙂

God speed..

Hi There

Anggap saja tulisan ini sebagai pre come back from my hibernation.

Dimana mulai menemukan ketertarikan untuk bercerita dan menulis lagi, tidak sekedar ketak ketik tetapi kemudian hanya berakhir di kotak Draft.

Udah gitu aja dulu ya.. 😀